Wisata history bersejarah candi Jago di Tumpang Malang. Lokasi Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang,  kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Berdiri diantara pemukiman penduduk. Masyarakat sekitar menyebut candi Jago dengan sebutan "Cungkup" artinya bentuk bangunan yang dikeramatkan. Untuk mencapai lokasi bagi yang dari luar pulau silahkan gunakan jasa sewa mobil surabaya,

Dalam kitab Pararaton dan kitab sastra kuna Nagarakertagama, memiliki arti JAJAGHU suatu nama tempat suci yang diagungkan. panjang 24 meter lebar 14 metertinggi 10,5 meter. Terbuat dari batu andesit atau batu gunung. Candi Jago diperkirakan diresmikan pada tahun 1280 masehi bersamaan dengan upacara Cradha yaitu upacara pelepasan roh dari dunia setelah 12 tahun meninggalnya raja Wisnuwardhana yaitu raja singhasari ke 4.

 

 

 

BENTUK DAN SUSUNAN CANDI JAGO ( JAJAGHU )

 

Candi Jago memiliki bentuk bangunan yang unik jika dibandingkan dengan candi lainnya. Kaki candi terdiri dari tiga tingkat;

Tingkat pertama terdapat delapan anak tangga.

Tingkat kedua ada empat belas anak tangga.

Tingkat ketiga ada tujuh anak tangga.

 

Setiap tingkat memiliki teras yang semakin ke atas teras tersebut makin mengecil dan bergeser ke belakang. pada tingkat pertama sampai ketiga memiliki selasar untuk mengelilingi candi. teras utama ada di puncak yang paling kecil dibandingkan yang lain dan letaknya bergeser kebelakang. Candi ini menghadap ke barat mengarah ke puncak gunung.

 

 

 

RELIEF PADA DINDING CANDI JAGO

gallery/p_20171009_131230_1_p

Seiring dengan perjalanan waktu, Relief pada dinding candi jago banyak menglami kerusakan tapi kita masih bisa melihat relief yang sangat indah pada dinding candi. Relief pada candi jago dipahat pada bagian dinding yang mudah dilihat pada bangunan candi karena merupakan pelengkap dan refleksi dari aspek keagamaan yang dianut masyarakat pada waktu itu juga berasal dari karya sastra yang populer dan sejarah kehidupan tokoh yang menjadi obyek pemujaan.

Prasawyah adalah cara membaca relief dengan mengelilingi tembok candi berlawanan dengan arah putaran jam. Relief tersebut bukan bentuk karya seni tanpa arti tapi banyak makna dan pesan mendalam terutama pesan pendidikan dan budi pekerti. Agama yang dianut pada masa Wisnuwardhana adalah Ciwa Budha atau Hindu Budha. Pada dinding candi terdapat pahatan relief yang menunjukkan dua sifat dari agama tersebut

RELIEF YANG BERSIFAT BUDHISTIS
- Relief menceritakan binatang (fabel) atau Tantri.
- Relief menceritakan Ari Darma atau Angling Darma
- Relief menceritakan Kunjarakarna

RELIEF BERSIFAT HINDUISTIS
- Relief menceritakan Parthayadnya (Mahabarata)
- Relief menceritakan Arjuna Wiwaha (Mahabarata)
- relief menceritakan Kresnayana (Mahabarata)



Cerita Relief seperti judul di aatas terpahat pada dinding candi Jago yang terjalin sangat harmonis dalam satu kesatuan terutama pada cerita Binatang (Fable) atau Tantri. Relief tantri merupakan sebuah cerita yang dipahat menggambarkan bentuk binatang dalam cerita, terdapat pesan tersembunyi yang ingin disampaikan kepada para pembaca relief.

Mengapa dipilih binatang sebagai tokoh utama dalam alur cerita, agar pembaca dapat dengan mudah mencerna isi pokok cerita yang disampaikan. Relief cerita binatang atau tantri berisi tentang pelajaran moral dan kebijaksanaan, didalamnya adalah mengenai hukum manusia.

fungsi dari cerita tantri yang terpahat pada dinding candi, pada masa lalu berfungsi sebagai suatu sarana belajar kebijakan dan moral kepada pangeran yang akan menjadi raja, dengan tujuan sang pangeran mampu memimpin kerajaan menjadi besar dan hebat. sehingga dapat diartikan bahwa candi bukan hanya berfungsi sebagai tenpat pemujaan tetapi juga sebagai sarana pendidikan, terutama pendidikan moral.

Relief yang menceritakan Kunjarakarna adalah cerita yang berunsur budha namun dalam pahatan atau gambaran, sama sekali tidak terkait sepenuhnya dengan dogma ajaran Budha. Seperti cara penggambaran tokoh Sri Wairucana/Wirwacana (Dyani Budha) diwujudkan bertangan empat dan dilengkapi sengan atribut-atribut Ciwa.Sedang tanda Ongkara bermunculan disekitarnya. Para pertapa dipahat memakai topi berberbentuk Tekes yang biasa dipakai para Panji. Para Yogiswara terlihat mengenakan Surban. Para pangeran dipahat memakai Supit Urang, Tokoh rajanya terlihat mengenakan gelungKeliling. Para Punakawan Punta Prasenta selalu setia mendampinginya. Pahatan Punakawan diwujudkan dalam bentuk yang gemuk, pendek, penuh dengan kekocakan sehingga terlihat agak kurang wajar namun cerdik dan penuh kasih sayang.

 

Untuk memeriahkan suasana dan menjiwai lingkungannya, peran Hanja-Hanja Jnana turut ditampilkan, ini pengetahuan tentang hantu untuk melengkapi seluruh jiwa perpaduan Hindhu dan Budha atau Ciwa Budha di masa itu.

 

Cerita Kunjarakarna mengandung suatu ajaran kebatinan dalam usaha manusia mencapai kesempurnaan hidup. Cerita ini lebih berfokus pada isinya yang berupa wejangan dan ajaran yang bersifat Mistik, Filosofik, mejik, dan religius. Dapat disimpulkan bahwa motif cerita Kunjarakarna yang terpahat pada dinding candi jago bahwa Wisnuwardhana adalah sang penyelamat.

 

Cerita Parthayadnya dan Arjunawiwaha berfokus pada tokoh bagian cerita kitab Mahabarata, yang menggambarkan tokoh Arjuna sebagai Ingkarnasi dewa Wisnu dan sebagai tokoh kunci kemenangan dari perang saudara antara Pandawa dengan Kurawa yang akhirnya mewujudkan kebahagiaan dan perdamaian

 

 

RELIEF BINATANG (FABLE) ATAU TANTRI

 

Pada dinding candi jago terpahat relief yang sangat populer menggambarkan adegan burung bangau yang membawa sepasang kura-kura dengan pahatan dalam posisi menggantung pada tongkat kayu dan tengahnya dari kayu di patuk oleh burung bangau sambil terbang. Ceritanya begini; Dua ekor kura-kura dengan seekor burung bangau yang hidup di sebuah Telaga yang melimpah airnya, mereka hidup bersahabat namun ketentraman itu dimanfaatkan dengan tidak baik oleh kedua ekor kura-kura karena sifatnya yang sombong dan serba tidak puas dengan apa yang dimilikinya akhirnya timbul niat jelek si kura-kura kepada sahabatnya si burung bangau. kura-kura berkata Wahai Sahabatku bangau yang setia, sebentar lagi akan datang suatu bencana yaitu musim kering yang panjang aku harus cepet-cepet pindah dari sini ke Telaga yang lebih besar dan airnya yang melimpah tapi Tempatnya sangat jauh. Lalu si burung menjawab "baik akan ku tolong kamu untuk pindah ke Telaga itu berpeganglah pada tongkat kayu yang tengahnya akan aku patuk dan gigitlah masing-masing ujung tongkat kayu ini tapi ingat, selama dalam perjalanan terbang Jangan kalian mengucapkan sepatah kata sebelum sampai tujuan.

Akhirnya burung bangau itu terbang ke angkasa dengan membawa dua ekor kura-kura yang bergelantung. Melalui Hutan, sungai, ladang dan belantara. dari kejauhan tampak dua binatang buas yaitu Serigala yang lagi istirahat di bawah pohon. tiba-tiba dua serigala itu melihat ke atas dan terlihat ada dua ekor kura-kura yang bergelantungan pada tongkat kayu yang dibawa terbang oleh burung bangau, maka timbul keinginan dari dua serigala itu untuk memangsa dua ekor kura-kura tersebut lalu diolok-olok dan dihina dua ekor kura-kura yang bergelantungan dibawa terbang oleh sang bangau. Serigala bilang, kalau kura-kura itu seperti kotoran kerbau kering yang sedang terbang dibawa angin mendengar olok-olok dan hinaan dari serigala itu dua ekor kuda kura itu tak tahan mendengar olok-olok dari dua serigala itu berulang-ulang sehingga membuat jengkel dan marah maka lupa pesan dari burung bangau untuk diam tak menghiraukan apapun sampai nanti tiba di tujuan dan akhirnya kedua ekor kura-kura itu bicara membalas hinaan dari Serigala tersebut sehingga membuat mulut kura-kura terbuka dan akhirnya mereka terjatuh karena gigitan pada tongkat kayu jadi lepas. naas nasib dua ekor kura-kura itu yang akhirnya jatuh ke tanah dan dimangsa serta jadi rebutan dua ekor Serigala tersebut.

Cerita ini mengandung pesan bahwa sifat yang mudah tersinggung dan pemarah, tidak sabar atau mudah terpancing emosinya, bisa mengakibatkan fatal dan mencelakakan dirinya sendiri karena kesombongannya. Sebagai manusia haruslah selalu bersabar, rendah hati serta tidak mudah terhasut dengan begitu akan selalu menemui kehidupan yang tentram hatinya.

Cerita semacam ini sangat populer pada masa klasik di Jawa pada masa kebudayaan Hindu Budha. Cerita ini digunakan sebagai sarana penyebaran agama dan menanamkan pesan etika dan moral bagi manusia lewat simbol-simbol yang dilambangkan dengan tokoh-tokoh binatang.