Sewa Mobil Dari Surabaya Ke Yogyakarta
Venusrentcar
+6285235980484
Harga sewa mobil dari surabaya ke jogja atau Yogyakarta untuk mobil Avanza, Mobilio dan mobil yang sekelas Minimal 2 hari / hari Rp 650 000 Sudah termasuk sopir. Belum termasuk bensin, toll dan parkir. Sewa mobil Innova Reborn Minimal 2 hari / hari Rp 850 000 Sudah termasuk sopir. Belum termasuk Bbm, toll dan parkir. Selisih harga sewa antara mobil Avanza dengan Innova Rp 200 000 lebih mahal Innova Reborn. Untuk kendaraan lain, silahkan hubungi CS Venusrentcar


Perbedaan Jogja sama Yogyakarta adalah sama. Hanya penyebutan saja. Jogja penyebutannya lebih singkat sedangkan Yogyakarta terlalu panjang. Kebanyakan orang menyebut Jogja untuk mempersingkat dan lebih simpel.
Perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta lewat jalur tol Trans-Java akan melewati lima ruas utama. Rutenya dimulai dari Tol Surabaya-Mojokerto, berlanjut ke Kertosono-Mojokerto, lalu Ngawi-Kertosono, kemudian Solo-Ngawi, dan terakhir Tol Solo-Yogyakarta. Untuk perkiraan biaya tol kendaraan golongan I, totalnya berkisar antara Rp360.000 hingga Rp380.000, tergantung gerbang masuk dan keluar yang Anda pilih.
Rincian tarif tol untuk kendaraan golongan I dari Surabaya ke Yogyakarta adalah sekitar Rp43.500 untuk Tol Surabaya-Mojokerto, kemudian Rp55.000 untuk Kertosono-Mojokerto, Rp102.000 untuk Ngawi-Kertosono, sekitar Rp131.000 untuk Solo-Ngawi, dan antara Rp42.500 hingga Rp57.000 untuk Tol Solo-Yogyakarta. Secara keseluruhan, estimasi waktu tempuh perjalanan dengan mobil berkisar antara 5 hingga 6 jam.


Sejarah berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian ini membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.
Pangeran Mangkubumi kemudian diakui sebagai raja atas wilayah Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Setelah itu, beliau menetapkan nama daerah kekuasaannya sebagai Ngayogyakarta Hadiningrat. Untuk pusat pemerintahan, Sultan memilih Hutan Pabringan yang terletak di antara Sungai Winongo dan Sungai Code karena dianggap strategis untuk pertahanan. Prosesi boyongan atau pindah kediaman dari Pesanggrahan Ambarketawang ke Keraton Yogyakarta terjadi secara resmi pada tanggal 7 Oktober 1756, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Yogyakarta.
Setelah kepindahan resmi ke Keraton, Sultan Hamengku Buwono I mulai membangun tata kota Yogyakarta yang sarat dengan filosofi mendalam. Pembangunan ini mengikuti sumbu imajiner yang membentang dari Gunung Merapi di utara hingga Pantai Parangtritis di selatan. Di sepanjang sumbu tersebut, terdapat bangunan-bangunan penting seperti Tugu Pal Putih, Keraton Yogyakarta, dan kawasan Panggung Krapyak. Tata letak ini melambangkan perjalanan hidup manusia serta hubungan antara Sang Pencipta, raja, dan rakyat. Selain itu, pertahanan kota juga diperkuat dengan parit besar yang mengelilingi benteng keraton. Dengan perencanaan yang matang dan memadukan aspek budaya, spiritual, dan pertahanan, Kota Yogyakarta tumbuh menjadi pusat kebudayaan Jawa yang penting hingga saat ini.
Sumbu imajiner Yogyakarta, yang juga dikenal sebagai Sumbu Filosofis, sarat akan nilai spiritual perpaduan Islam dan Jawa, yaitu Sangkan Paraning Dumadi. Filosofi ini menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta. Panggung Krapyak di bagian selatan melambangkan asal mula kehidupan atau rahim, serta proses pendewasaan. Keraton Yogyakarta melambangkan kehidupan manusia di dunia, lengkap dengan ujian, tanggung jawab, dan pengabdian.
Tugu Golong-Gilig di utara melambangkan tujuan akhir, yaitu penyatuan cipta, rasa, dan karsa untuk kembali kepada Tuhan. Memahami sejarah wilayah ini selama masa penjajahan memerlukan perhatian khusus. Pada masa penjajahan Belanda, Yogyakarta memiliki status pemerintahan sendiri atau yang disebut Vorstenlanden, namun secara bertahap Belanda mencampuri urusan internal, termasuk kekuasaan politik dan peradilan. Ketika Jepang menduduki Indonesia, mereka mengubah struktur pemerintahan dan mengakui Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa atau Kooti, dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai kepalanya. Pada masa ini, Sultan memanfaatkan kebijakan Jepang untuk menata kesultanan, hingga akhirnya bergabung dengan Republik Indonesia setelah kemerdekaan.
Pada masa penjajahan Belanda, Yogyakarta awalnya berdiri sebagai negara merdeka yang sejajar dengan VOC. Namun, melalui berbagai perjanjian politik, Belanda secara bertahap mencampuri urusan internal, mengambil alih kekuasaan kehakiman secara bertahap, dan mengurangi luas wilayah kesultanan paska Perang Diponegoro. Meski ditekan kolonial, Kesultanan Yogyakarta tetap mempertahankan budaya Jawa yang kuat dengan sistem pemerintahan mandiri atau Vorstenlanden.
Ketika Jepang masuk pada tahun 1942, mereka menggantikan pemerintahan Belanda dan mengakui Yogyakarta sebagai daerah istimewa atau Kooti. Sri Sultan Hamengkubuwono IX berhasil melindungi rakyatnya dan menjaga kedaulatan kesultanan tetap utuh selama pendudukan militer Jepang hingga proklamasi kemerdekaan.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX segera menyatakan Yogyakarta bergabung dengan Republik Indonesia. Pada tahun 1946, Yogyakarta bahkan menjadi ibu kota negara setelah Jakarta dianggap tidak lagi aman akibat agresi militer Belanda. Kesultanan ini juga memberikan dukungan finansial dan logistik yang sangat besar untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Silahkan Klik Pilihan Mobil Anda




































