

Sewa mobil dari Surabaya ke Air Terjun Toroan Sampang Madura dengan mobil Avanza Rp 450 000 harga termasuk mobil Avanza dan Driver. Harga belum termasuk bensin, tol dan parkir. Sewa mobil Innova Reborn Rp 700 000 Harga sudah termasuk mobil dan supir. Harga belum termasuk bahan bakar, toll dan parkir. Surabaya ke Air Terjun Toroan Sampang tidak melalui tol karena memang belum ada jalan tol. Tiket jembatan Suramadu juga gratis. kalau dari bandara Juanda ada tol dan biaya parkir bandara. Jarak dari Surabaya ke Air Terjun Toroan Sampang 130 Km bisa ditempuh 3 jam perjalanan. Jalur dari Surabaya ke Air Terjun Toroan Sampang ada 2 jalur yaitu jalur tengah dan jalur pantai utara.




Lokasinya berada di Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Berada di pantai utara kota Sampang. Merupakan satu-satunya air terjun yang ada di Sampang.




Air terjun Toroan memiliki cerita legenda yang sudah terkenal di Sampang. Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Siti Fatimah dan Sayid Abdurrahman yang lebih dikenal dengan birenggono. Dia tingggal di sebuah Dusun kecil bernama Dusun Langger Deje di perbatasan Desa Ketapang daya dan desa Ketapang Timur, Ketapang, Kabupaten Sampang. sepasang suami istri tersebut berasal dari pulau Kalimantan datang ke Madura bersama adik bir enggono yaitu Rohim yang kemudian lebih dikenal dengan direnggana, untuk menyebarkan agama Islam. Mereka dikenal masyarakat setempat memiliki keluhuran Budi dan ilmu kesaktian sehingga masyarakat hormat kepada mereka. Miringgono dan birenggana datang untuk menyebarkan agama Islam. Pada suatu hari saat sedang duduk di tepi jalan dekat rumahnya, nampak dari kejauhan terlihat ada seorang sedang memikul karung. Setelah dekat, direnggono menyapa Pak Tua tersebut, mau kemana? mau pulang ke Pancor Pak, jawab Pak Tua tadi sambil memalingkan muka. Rupanya Pak Tua tadi ketakutan, Jangan-jangan orang yang menyapanya ini adalah seorang perampok. Kemudian bertanya lagi kepada Pak Tua. Apa yang Bapak pikul? Ini garam Pak. Jawab Pak Tua. Karena takut jika mengatakan beras akan dirampok berasnya. Silahkan kalau begitu. Hati-hati banyak perampok di jalan. Ucapnya mengingatkan Pak Tua. Terima kasih, jawab Pak Tua. Setelah sampai di rumah, alangkah terkejutnya Pak Tua melihat isi karungnya berubah menjadi garam. Kemudian Pak Tua kembali menemui bir enggono untuk menanyakan barangkali berasnya tertukar. Ada apa? Pak Tua menanyakan. Maaf, saya mau menanyakan apakah karung yang saya bawa tadi tertukar dengan karung Bapak? Tidak memangnya apa isi karung tadi? Saya tadi tidak jujur. Sebenarnya isi di dalam karung saya itu beras. Bukan garam. Jawab Pak Tua. Makanya Anda harus jujur, jangan suka berbohong Pak. sebaiknya Bapak pulang saja. ucap direnggono berusaha mengingatkan. dengan wajah lesu, akhirnya Pak Tua kembali pulang Tetapi sesampainya di rumah, alangkah terkejut dan bahagianya Pak tua ketika membuka karung tersebut, sekarang isinya kembali berubah menjadi beras.
Pada awalnya, sepasang suami istri tersebut hidup rukun dan bahagia Tetapi pada suatu hari mereka mengalami percekcokan. Sang suami mencurigai istrinya selingkuh dengan laki-laki lain demikian pula dengan sang istri. Dia mencurigai suaminya juga selingkuh dengan wanita lain. Puncak dari perselisihan tersebut, sepasang suami istri tersebut kemudian sepakat saling bersumpah di hadapan banyak orang. Siti Fatimah bersumpah jika memang dia bersalah maka ketika ia meninggal nanti jika dikuburkan di tengah sungai maka akan hanyut di bawah air sungai dan banjir tetapi jika tak bersalah, makamnya tidak akan hanyut oleh air sungai. Begitu pula sang suami bersumpah jika dia nanti meninggal, makamkanlah ia di atas puncak bukit kapur. Jika tak bersalah maka akan mudah digali, hanya dengan menggunakan ranting pohon jarak. Sebaliknya jika memang bersalah maka kuburan tersebut tidak akan bisa digali setelah beberapa tahun. kemudian sepasang suami istri tersebut meninggal dunia bersamaan. Kemudian penduduk setempat memakamkan Siti Fatimah di tengah sungai dan memakamkan suaminya di Atas Bukit Kapur sesuai dengan wasiat dan sumpah mereka ketika masih hidup dan sungguh tidak masuk akal. ketika penduduk memakan Siti Fatimah di tengah hilir sungai, ternyata aliran sungai seolah-olah menghindari makam membelah menjadi dua aliran menuju laut membentuk air terjun kemudian air terjun tersebut oleh masyarakat dinamakan air terjun toroan. Berasal dari kata toron-toron dalam bahasa Madura berarti turun. Makam Siti Fatimah Kemudian oleh masyarakat dinamakan Asta bujur. Begitu pula dengan jenazah Di Atas Bukit Kapur, tidak jauh dari makam, dengan cara menggali Bukit Kapur tersebut menggunakan ranting pohon jarak, sungguh suatu keajaiban. ternyata dengan mudah penduduk dapat menggali Bukit Kapur hanya menggunakan ranting pohon jarak. makam ini kemudian oleh masyarakat Ketapang Timur dikenal dengan tempat yang tinggi sampai saat ini kedua masih ada.

