Sewa Mobil Surabaya Ke Sumenep

Venusrentcar

+6285235980484

Harga sewa mobil dari surabaya ke Sumenep minimal pemakaian 2 hari. Jalau cuma sehari sangat bahaya karena belum ada jalan tol. Mobil Innova Rp 750 000 Sudah termasuk driver. Harga tidak termasuk Bbm, tol dan parkir. Untuk mobil Avanza Rp 550 000. Mobil dan Driver. Belum termasuk tol, bensin dan parkir. Untuk jenis kendaraan lain, bisa hubungi Customer Service kami.

Sejarah Sumenep dimulai jauh sebelum kerajaan, ketika wilayah ini masih berupa daerah rawa yang kemudian mengering dan dihuni oleh masyarakat dataran rendah pada abad ketiga belas. Nama Sumenep sendiri berasal dari kata "Songennep" dalam bahasa Kawi yang berarti lembah yang tenang. Perubahan besar dalam pemerintahan terjadi ketika Arya Wiraraja diangkat sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal tigapuluh satu Oktober seribu dua ratus enam puluh sembilan. Tokoh ini sangat berpengaruh dan memainkan peran kunci dalam pembentukan Kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.

Memasuki masa kolonial, pengaruh Belanda mulai masuk pada abad kedelapan belas dan secara bertahap mengubah tatanan kota kraton menjadi kota bercorak kolonial, terutama setelah Sumenep dikuasai secara langsung pada tahun seribu delapan ratus delapan puluh tiga. Saat ini, Sumenep dikenal sebagai kota budaya atau "The Soul of Madura" dengan warisan sejarah yang masih terjaga, seperti Keraton Sumenep dan Masjid Jamik, yang berdampingan dengan perkembangan modern.

Setelah Arya Wiraraja, kerajaan Sumenep dipimpin oleh beberapa dinasti yang terus menjaga kedaulatannya. Pengaruh Islam juga mulai berkembang pesat, terutama di bawah kepemimpinan Pangeran Joharsari pada abad ke-14, yang membawa perubahan pada corak kebudayaan setempat.

Memasuki masa kolonial yang lebih mendalam, terutama setelah jatuh ke tangan VOC di tahun 1705, Sumenep mengalami modernisasi dalam tata kota. Belanda membangun benteng dan fasilitas perdagangan, yang kemudian berujung pada penerapan pemerintahan langsung pada tahun 1883. Kebijakan ini secara drastis menghapus sistem kerajaan lokal. Setelah kemerdekaan Indonesia, Sumenep bertransformasi menjadi daerah otonom atau kabupaten, yang terus memelihara identitas budayanya sebagai pusat kebudayaan Madura, meski telah mengalami kemajuan di berbagai sektor seperti pariwisata dan infrastruktur.

Warisan arsitektur kolonial di Sumenep sangat menonjol pada perpaduan gaya lokal dengan sentuhan Eropa. Salah satu contoh paling megah adalah Keraton Sumenep, yang dibangun oleh Panembahan Sumolo pada tahun tujuh belas enam puluh dua. Bangunan ini menampilkan arsitektur unik dengan sentuhan budaya Tionghoa dan Jawa di beberapa bagiannya. Selain itu, Masjid Jamik Sumenep yang berada di dekat keraton juga menjadi simbol penting penyebaran Islam dengan desain yang mencerminkan kejayaan masa lalu.

Masjid Jamik Sumenep dibangun pada tahun tujuh belas delapan puluh tujuh oleh Panembahan Sumolo, dengan arsitek terkenal Lauw Piango yang juga seorang Tionghoa. Desain masjid ini menunjukkan perpaduan kuat antara gaya arsitektur Eropa, seperti pada pintu gerbang utamanya, dengan corak tradisional Jawa dan Madura. Masjid ini punya menara yang unik yang konon juga berfungsi untuk memantau keamanan pelabuhan pada masanya.